suka-suka dech

October 14, 2008

Dewi Cinta Penebar Maut

Filed under: Tentang bunga

Minggu, Oktober 12, 2008 11:50:03   

 
Dewi Venus dipuja bangsa Romawi lantaran kecantikan dan kebaikan hatinya yang penuh cinta. Namun, bagi para serangga venus justru menjadi malaikat pencabut nyawa. Kecantikannya hanyalah pemikat yang mengantarkan mereka menuju gerbang kematian. Dialah venus fly trap alias Dionaea muscipula. Sosok tanaman pemangsa serangga itu memang indah. Pada setiap daun terdapat sepasang cuping berwarna merah mencorong atau hijau muda. Di bagian tepi terdapat bulu-bulu halus, persis kelopak mata. Susunan daun yang tampak roset membuat penampilan anggota famili Droseraceae itu kian menawan. Pantas bila sebutan venus yang melambangkan kecantikan itu disematkan pada kerabat drosera itu.

Tak hanya keindahannya yang membuat para serangga tergoda untuk hinggap. Dari permukaan cuping mengeluarkan aroma nektar yang menggiurkan. Begitu serangga menjejakkan kaki, setengah detik kemudian kedua cuping itu mengatup menjebak mangsa. Dalam waktu sesingkat itu tak satu pun mangsa mampu meloloskan diri.

Enzim itu mengurai tubuh sang mangsa menjadi protein yang nantinya diserap tanaman untuk pertumbuhan. Setelah ‘makanan’ benar-benar habis, cuping membuka dan kembali bersiap menjebak mangsa. Begitulah cara dionaea bertahan hidup di habitat aslinya di alam.
Dionaea adalah tanaman pemangsa sesungguhnya. Ia menggunakan ’senjata’ sepasang cuping untuk menangkap serangga. Namun, cara kerja cuping menjebak mangsa hingga kini belum diketahui secara pasti. Kemungkinan sepasang cuping itu mengatup setelah serangga menyentuh rambut-rambut halus yang berada di permukaan bagian dalam cuping. Rambut-rambut itu ibarat sensor yang memicu aktivitas sel-sel pada pangkal cuping
sehingga menutup dengan cepat. Beragam keunikan dionaea juga membangkitkan minat para hobiis untuk membudidayakannya.

Kunci keberhasilan budidaya dionaea adalah :
lingkungan yang sesuai dengan habitat aslinya di alam. Salah satunya adalah menanam dionaea pada media lembap, tetapi jangan sampai tergenang. Kondisi media tergenang dapat menyebabkan busuk akar dan akhirnya mati. Media juga jangan dibiarkan terlalu kering. Agar
kelembapan media terus terjaga, letakkan pot dalam wadah berisi air setinggi 1 cm.

Air hujan
Namun, jangan sembarangan menggunakan air. Seperti tanaman karnivora lainnya, dionaea sangat peka terhadap kemurnian air. Musababnya, di habitat aslinya mereka hanya disirami air hujan yang kandungan hara atau mineralnya rendah. Oleh sebab itu, satusatunya cara untuk memenuhi kebutuhan air dionaea adalah dengan menampung air hujan pada tangki
atau kolam. Tanaman penjebak serangga itu juga sangat peka terhadap kondisi media
tumbuh. Di habitat aslinya mereka hidup di tanah minim hara dan mineral. Akibatnya sistem perakaran mereka tidak mampu menyerap air atau mineral jika konsentrasinya dalam tanah terlalu tinggi. Oleh sebab itu dionaea membutuhkan media asam yang kandungan haranya
rendah seperti campuran kompos sphagnum, perlit, dan pasir silikat yang tidak mengandung ion, dengan perbandingan 2:1:1.
Venus fly trap berasal dari daerah beriklim sedang. Di habitat aslinya, Dionaea muscipula tumbuh menghampar tanpa naungan. Itulah sebabnya ia menyukai sinar matahari langsung. Begitu juga bila dibudidayakan. Sebaiknya tanaman disimpan di tempat terbuka. Selain tanaman tampak lebih vigor, warna tanaman juga lebih mencorong sehingga penampilannya lebih menarik. Cuping dionaea juga mengatup lebih cepat sehingga mangsa tak akan sanggup meloloskan diri. Bila kelima kondisi itu terpenuhi, dionaea akan tumbuh subur. Setiap tanaman dewasa menghasilkan 30 cuping jebakan dan panjang daun mencapai 15 cm. Ia berbunga setahun sekali yakni ketika musim semi. Sekali berbunga bisa menghasilkan 40 kuntum. Sayangnya para hobiis yang merawat dionaea dari biji mesti bersabar menunggu 3-6 tahun hingga dewasa.

sumber : http://www.trubus-online.co.id/

AGLONEMA DAUN HIJAU

Filed under: Tentang bunga

Tanaman tropis berdaun cantik ini merupakan varian tanaman dari keluarga Araceae. Aglaonema memiliki daya pikat pada warna dan corak daunnya yang berbeda-beda.
Lihat saja Aglaonema non hibrida, yang pada umumnya berdaun hijau, namun tetap cantik dengan corak daun yang unik. Sementara, Aglaonema hibrida daunnya lebih beragam, dengan dominasi warna kemerahan, kuning, dan jingga.
Setelah melalui persilangan, Aglaonema yang aslinya berdaun hijau ini memang mengalami perubahan corak warna daun, seperti menjadi merah atau pink. Aglaonema merah inilah yang beberapa tahun terakhir ini menjadi incaran orang, bahkan pernah menjadi buah bibir di antara para pecinta tanaman hias dunia.
Orang-orang Asia memang lebih menyukai Aglaonema berdaun merah. Padahal, para pecinta tanaman hias dari Amerika justru lebih menyukai Aglaonema daun hijau. "Memang, dari segi harga yang daun merah lebih mahal, sedangkan yang hijau bisa setengah harganya," tutur Ukay, dari An-Nisa Flora.
Namun, kini harga Aglaonema, termasuk yang berdaun merah, semakin terjangkau. Dulu, bagi kalangan tertentu, Aglaonema merah masih dianggap mahal. Setelah harga-harga itu dikoreksi, jadi bisa terjangkau masyarakat luas. "Peminatnya pun tak hanya di Jakarta saja, tapi juga merambah ke daerah Lombok, Gorontalo (Sulawesi)."
Selain lebih murah, merawat Aglaonema hijau lebih mudah dibanding Aglaonema daun merah. Pembiakannya pun sangat mudah. Dalam waktu 4-5 bulan saja sudah bisa menghasilkan tunas baru. Dari tunas ini bisa dipisahkan dari induknya, kemudian menjadi tanaman baru.
Menurut Ukay, untuk menghasilkan daun merah jelas lebih sulit karena harus dilakukan persilangan dengan induk jantan dari Aglaonema daun merah. Sementara ratundumnya pun (cawang) agak sulit dirawat. "Berbeda dengan persilangan daun hijau, lebih mudah karena sama-sama berwarna hijau," jelas Ukay.

COCOK DI TERAS
Media tanaman yang dipakai untuk menanam Aglaonema sama seperti halnya tanaman hias lain. Campuran arang sekam, cocopeat (serbuk sabut kelapa), pasir malang, kapur penetral pH tanah, dan pupuk slow release. Kesuburan serta cerahnya warna hijau daun yang dihasilkan, sangat tergantung pada lokasi di mana tanaman itu tumbuh.
Ukay yang membiakkan Aglaonema di daerah Sawangan, Depok ini memiliki kendala dengan cuaca di lokasi ini. "Di Sawangan curah hujannya sangat tinggi, sehingga sirkulasi udaranya tidak cepat. Udara jadi lembap dan susah kering. Makanya, daun Aglaonema jadi tertutup lumut dan berwarna kusam seperti kena debu. Warnanya jadi tidak terang dan menarik seperti aslinya."
Sehingga, saran Ukay, sebaiknya Aglaonema jangan ditanam di lokasi yang memiliki tingkat kelembapan tinggi atau bercurah hujan tinggi. "Aglaonema senang berada di tempat lembap, tapi udaranya harus kering. Idealnya harus ditanam di tempat dengan kelembapan rendah agar lumut tidak terpancing tumbuh," papar Ukay sambil menyarankan menyiraminya 2-3 hari sekali.
Jika daun Aglaonema tertutup lumut, kata Ukay, agak sulit membersihkannya. Sebab, lumut menempel kuat di daun. Namun, tetap ada cara mudah yang bisa dilakukan untuk membersihkannya. Gunakan spons busa, basahi dengan deterjen. Gosok perlahan-lahan di permukaan daun yang berlumut. Daun pun akan kembali cerah.
Yang juga penting diperhatikan, lanjut Ukay, media tanamnya harus porous. Artinya, meski hujan, airnya harus bisa langsung terbuang dari media tanam. Sebab, jika media tanamnya dirasa tidak cocok, akan terjadi pembusukan akar. Akan tetapi, imbuhnya, sebenarnya Aglaonema daun hijau merupakan pot plant yang lebih cocok diletakkan di atas meja atau di teras depan rumah, sehingga berkesan lebih mewah.
Kendati pamornya masih kalah dibanding yang berdaun merah, menurut pengamatan Ukay, Aglaonema daun hijau yang hijau tetap masih dicari. "Misalnya yang Snow White dan Milkyway, setiap kali ada pameran pasti habis terjual. Sebab, yang berdaun hijau itu tetap cantik dipandang, lho. Malah, warna hijau lebih sehat untuk mata, daripada melihat sekelompok Aglaonema daun merah yang bisa membuat sakit mata," guaru Ukay.

JENIS-JENIS AGLAONEMA HIJAU
Tahukah Anda, Aglaonema daun hijau memiliki banyak jenis dengan corak daun yang berbeda dan unik? Sebut saja Aglaonema Snow White. Milkyway, A. communtatum, atau A. cochin.
Keterangan Gambar:

  1. Varietas baru, belum memiliki nama. Bentuk daunnya lebih membulat dengan panjang 40-50 cm, dan lebar 25 cm. Pada varietas lama, daunnya lebih panjang. Warna daunnya hijau muda bergaris-garis hijau tua.
  2. milkyway, garis putihnya cukup menyolok dan warnanya terlihat kontras.
  3. Snow White merupakan varietas yang paling populer. Jika disimpan di tempat teduh, daunnya cenderung akan menjadi lebih kuning.
  4. Daun Aglaonema hijau mengalami mutasi dari hijau tua menjadi bintik-bintik putih. Sementara di balik daun, warnanya lebih muda. Varietas lama yang ada di Indonesia, termasuk tanaman yang banyak dicari orang. Biasanya disebut Tutul-tutul atau Sri Rejeki atau Beras Tumpah.
  5. Persilangan A.costatum dan A.Cochin, hasilnya akan didapat motif daun A.cochin, tapi batangnya A.costatum, yang biasanya tegak jadi lebih melebar.
  6. Hasil perbaikan dari Aglaonema mini, varietasnya lebih banyak dan biasanya ukurannya lebih kecil.
  7. Hasil persilangan A.stenophyllum, biasanya daun berbentuk lancip dan memanjang, warnanya cenderung hijau dan lebih tebal. Anakan pertama, daunnya lebar, tapi makin ke atas makin kecil.
  8. Silangan A.cochin dan A.commutatum, biasanya tangkainya panjang, tapi yang ini pendek, dengan lebar 1-2 cm. Bentuk daunnya pun terlihat kompak.
  9. Belum memiliki nama. Daunnya sangat tebal dan bulat dengan lebar 30x25 cm. Warna daun sangat beraturan, mulai dari hijau tua, sedang, dan muda.
  10. Hasil perbaikan yang membesar. Bentangan tajuknya mencapai di atas 1 meter.
  11. Persilangan A.costatum dan A.brevispathum, keunikannya terletak pada warna tulang daun yang tetap putih, bentuk daun bulat dengan panjang 40 cm dan lebar 30 cm. Ada yang bermotif garis-garis.
  12. Aglaonema dari Filipina, memiliki buah. Jika sudah matang, buahnya berwarna merah. Untuk pembiakan, buah dibuka, disimpan dulu 1-2 hari, lalu disemai. Hasilnya akan persis seperti induknya. Keunikan lainnya, jika belum berbatang, bentuknya mirip Homalomena.
  13. Aglaonema Lipstick dengan warna daun hijau putih. Tidak memiliki motif, warna daun semua hijau
sumber : http://www.petanibunga.com/

Arus Lalu Lintas Pagi ini Padat

Filed under: informasi

Selasa, 14 Oktober 2008 | 08:46 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Arus lalu lintas Jakarta Selasa (14/10) pagi ini padat. Berdasar pantauan <I>Traffic Management Centre</I> (TMC) Polda Metro Jaya, kepadatan terjadi dari arah luar Jakarta.

Dari arah Bekasi, kepadatan terjadi di Kalimalang.
Menurut petugas TMC, Brigadir Ardi, salah satu penyebabnya adalah dominasi roda dua. "Mereka tak tertib dan kadang menggunakan ruas jalan berlawanan," kata dia ketika dihubungi Tempo.

Kepadatan juga terjadi dari arah Depok, di stasiun Tanjung Barat, Lenteng Agung dan perempatan TB Simatupang. Dari arah Ciputat-Pondok Indah juga, padat. "Terutama di bundaran Pondok Indah dan perempatan TB Simatupang," kata dia.

Sedangkan jalur protokol Sudirman-Thamrin kondisi ramai-lancar, hingga Stasiun Kota. Di Tol TB Simatupang, arus lalu lintas juga lancar.

Sedangkan di tol dalam kota kepadatan terjadi di pintu keluar Tegal Parang dan Tendean. Kepadatan juga terjadi di UKI dan Cawang.

Dari arah Tangerang, kepadatan terjadi di Kebayoran Lama, terutama di pasar Kebayoran Lama. Di jalur tol, kepadatan terjadi di tol Tomang arah ke Senanyan. "Volume kendaraan meningkat," kata dia.

sumber : http://www.tempointeraktif.com/






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham